Puncak Populer — Komitmen menjaga warisan budaya Indonesia kembali mengemuka setelah Anggota DPR RI Fadli Zon mendorong pemerintah mempercepat program revitalisasi Candi Borobudur dengan pemanfaatan Teknologi Canggih. Ia menilai, langkah modernisasi ini penting bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan situs warisan dunia tersebut, tetapi juga untuk menjamin kelestarian candi bagi generasi mendatang di tengah meningkatnya arus wisatawan.
Preservasi Cagar Budaya Harus Diimbangi Teknologi Modern
Fadli Zon menegaskan bahwa Borobudur bukan hanya ikon pariwisata, tetapi juga simbol kejayaan peradaban bangsa yang wajib dijaga dengan serius. Dengan statusnya sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO, Borobudur mempunyai nilai sejarah, arsitektur, dan spiritual yang tinggi sehingga pelestariannya perlu dilakukan secara profesional dan berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut Fadli, tantangan global dalam preservasi cagar budaya kian kompleks. Perubahan cuaca ekstrem, erosi mikro, aliran air, dan tekanan jumlah pengunjung harus dikelola dengan akurat. Ia menilai bahwa Indonesia perlu mengikuti jejak negara lain yang telah menerapkan pendekatan preservasi berbasis teknologi mutakhir seperti 3D laser scanning, AI prediction system, drone thermal mapping, hingga digital twin untuk memetakan kondisi struktur.
Fadli menambahkan bahwa teknologi tidak menggantikan peran ahli konservasi, tetapi justru menjadi alat bantu penting agar pekerjaan restorasi lebih terukur, efisien, dan minim risiko kerusakan.
Pemanfaatan 3D Mapping dan AI untuk Analisis Struktur
Salah satu usulan konkret Fadli Zon adalah penerapan 3D mapping beresolusi tinggi untuk memetakan seluruh permukaan Candi Borobudur secara detail. Dengan data tiga dimensi ini, tim konservasi dapat mendeteksi keretakan kecil, permukaan yang aus, hingga perubahan warna yang mengindikasikan kelembaban atau serangan mikroorganisme.
Selain itu, penggunaan AI predictive maintenance juga dinilai sangat efektif. Sistem kecerdasan buatan dapat menganalisis ribuan data perubahan struktur dari waktu ke waktu, lalu memproyeksikan titik-titik yang berpotensi mengalami kerusakan dalam beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, tindakan preventif bisa dilakukan sebelum kerusakan besar terjadi.
Teknologi seperti ini telah digunakan di berbagai situs dunia, termasuk kuil Angkor Wat di Kamboja dan Colosseum di Italia. Fadli menegaskan bahwa Indonesia harus berani mengambil langkah serupa karena kondisi Borobudur kini menghadapi tantangan besar, terutama dari volume wisatawan dan faktor lingkungan.
Drone Thermal Imaging untuk Pantau Kelembaban dan Erosi
Dalam paparannya, Fadli Zon juga menyoroti pentingnya penggunaan drone thermal imaging untuk memantau suhu permukaan batu dan tingkat kelembaban yang berpotensi memicu lumut, jamur, atau pelapukan.
Drone dapat melakukan inspeksi harian atau mingguan tanpa menyentuh struktur fisik bangunan, sehingga risiko terhadap batuan candi semakin rendah. Data suhu dan kelembaban yang terekam kemudian diproses melalui sistem analitik, menghasilkan peta risiko visual yang mudah dipahami oleh tim konservasi.
Selain itu, drone dapat memantau kondisi vegetasi di sekitar kompleks candi agar potensi akar atau tanaman liar tidak mengganggu struktur pondasi. Teknologi ini terbukti menghemat waktu, tenaga, dan anggaran dibanding inspeksi manual konvensional.
Digital Twin: Peta Virtual untuk Efisiensi Perencanaan
Usulan inovatif lain yang dikemukakan Fadli Zon adalah pembuatan digital twin Borobudur, sebuah replika digital interaktif yang memvisualisasikan kondisi candi secara real-time. Digital twin biasanya digunakan di industri konstruksi modern, namun kini mulai diterapkan dalam konservasi situs budaya.
Dengan digital twin, tim pengelola dapat:
- mensimulasikan dampak cuaca ekstrem, seperti hujan deras atau gelombang panas
- memprediksi area yang membutuhkan reinforcement
- menghitung pergerakan batu dari tahun ke tahun
- mengevaluasi program revitalisasi sebelum diterapkan di dunia nyata
Penggunaan digital twin akan memungkinkan proses revitalisasi lebih efisien, akurat, dan hemat anggaran karena berbagai skenario dapat diuji terlebih dahulu secara virtual.
Atur Ulang Alur Wisata untuk Lindungi Struktur Candi
Selain fokus pada teknologi konservasi, Fadli Zon juga menyoroti manajemen wisata yang harus diatur ulang agar tidak membebani struktur candi. Ia mengusulkan penerapan sistem kuota pengunjung berbasis aplikasi sehingga jumlah wisatawan dapat dipantau real-time.
Penggunaan AI crowd management juga penting untuk memantau kepadatan, menentukan jalur masuk–keluar yang aman, dan mengurangi titik tekanan pada batuan candi. Dengan teknologi ini, langkah pelestarian dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Fadli menekankan bahwa pariwisata tidak boleh mengorbankan kelestarian cagar budaya. Dengan sistem yang modern, pengunjung tetap dapat menikmati keindahan Borobudur tanpa mengancam struktur aslinya.
Sinergi Pemerintah Pusat, Daerah, dan Pakar Konservasi
Menurut Fadli Zon, revitalisasi Borobudur berbasis teknologi mutakhir membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Balai Konservasi Borobudur, akademisi, serta pakar konservasi dari dalam dan luar negeri.
Kerja sama ini dinilai penting karena pelestarian candi bukan pekerjaan satu lembaga. Dibutuhkan riset multidisiplin melibatkan ahli arkeologi, geologi, digital engineering, sejarah, dan teknisi konservasi.
Ia berharap pemerintah mempercepat penganggaran khusus untuk riset, teknologi, dan pelatihan SDM agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain dalam pengelolaan situs warisan budaya dunia.
Menuju Borobudur yang Lebih Terjaga dan Efisien
Dorongan Fadli Zon untuk menerapkan teknologi canggih dalam revitalisasi Borobudur merupakan langkah strategis di tengah meningkatnya tantangan konservasi. Pemanfaatan teknologi seperti 3D laser scanning, drone thermal imaging, AI analysis, crowd management digital, hingga digital twin terbukti dapat meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan akurasi program perawatan candi.
Dengan pendekatan modern dan kolaboratif, Borobudur berpotensi menjadi contoh dunia dalam konservasi situs bersejarah berbasis teknologi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keagungan candi selama ratusan tahun ke depan, sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang lebih aman dan berkualitas bagi para pengunjung.
