Puncak Populer – Dunia usaha global kini berada di titik persimpangan yang krusial, di mana profitabilitas tidak lagi bisa dipisahkan dari tanggung jawab lingkungan dan sosial. Menjawab tantangan ini, firma jasa profesional global Ernst & Young (EY) secara resmi meluncurkan kerangka kerja terbaru yang dirancang khusus untuk membantu organisasi mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam inti strategi bisnis mereka. Langkah ini bukan sekadar respons terhadap tren pasar, melainkan sebuah panduan komprehensif bagi perusahaan untuk melakukan transisi dari model bisnis konvensional menuju ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan tangguh di masa depan.
Transformasi Strategis EY Luncurkan Kerangka Kerja
Selama dekade terakhir, banyak perusahaan memandang keberlanjutan atau sustainability hanya sebagai bagian dari laporan CSR (Corporate Social Responsibility) atau sekadar kewajiban kepatuhan administratif. Namun, EY menekankan bahwa pendekatan “tambahan” tersebut tidak lagi memadai. Melalui kerangka kerja yang baru diluncurkan ini, EY menawarkan metodologi yang memungkinkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) menyatu dengan operasional harian, manajemen rantai pasok, hingga pengambilan keputusan investasi di tingkat dewan direksi.
Kerangka kerja ini muncul di saat para investor, regulator, dan konsumen menuntut transparansi yang lebih besar. Perusahaan yang gagal mengintegrasikan keberlanjutan berisiko menghadapi kerugian finansial, sanksi regulasi, serta penurunan reputasi merek. Dengan panduan dari EY, organisasi diharapkan dapat mengidentifikasi risiko non-finansial secara lebih dini dan mengubahnya menjadi peluang nilai jangka panjang (long-term value creation).
Pilar Utama Kerangka Kerja EY
Kerangka kerja yang diusung EY berfokus pada empat pilar utama yang saling terhubung:
- Strategi dan Ambisi: Membantu perusahaan mendefinisikan ulang tujuan inti mereka. Keberlanjutan harus dimulai dari visi pemimpin yang kemudian diturunkan menjadi target yang terukur, seperti pencapaian net-zero emission.
- Operasi dan Rantai Pasok: Fokus pada efisiensi sumber daya. EY memberikan alat untuk memetakan jejak karbon di seluruh rantai pasok dan mendorong kolaborasi dengan pemasok yang memiliki visi ekologis serupa.
- Tata Kelola dan Transparansi: Pengukuran data yang akurat adalah kunci. Kerangka kerja ini menekankan pentingnya sistem pelaporan yang kredibel untuk menghindari praktik greenwashing yang sering merusak kepercayaan pasar.
- Teknologi dan Inovasi: Memanfaatkan kekuatan data dan AI untuk memantau performa ESG secara real-time. Teknologi diposisikan sebagai enabler yang mempercepat pencapaian target keberlanjutan.
Dampak bagi Sektor Bisnis di Indonesia
Bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, peluncuran kerangka kerja ini sangat relevan mengingat posisi Indonesia yang strategis dalam rantai pasok global. Perusahaan lokal yang mampu mengadopsi standar internasional seperti yang ditawarkan EY akan memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar ekspor, terutama ke wilayah dengan regulasi ketat seperti Uni Eropa. Selain itu, integrasi ini juga mempermudah akses terhadap pendanaan hijau (green financing) yang kini semakin banyak ditawarkan oleh lembaga keuangan global.
EY juga menyoroti bahwa aspek “Social” dalam ESG sangat krusial bagi konteks lokal, termasuk pemberdayaan masyarakat sekitar dan keberagaman di tempat kerja. Kerangka kerja ini memberikan panduan tentang bagaimana pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan sosial.
Peluncuran kerangka kerja keberlanjutan oleh EY menandai babak baru dalam evolusi korporasi modern. Keberlanjutan bukan lagi tentang “berbuat baik”, tetapi tentang “berbisnis dengan cerdas”. Dengan panduan yang terstruktur, perusahaan memiliki peta jalan yang jelas untuk menavigasi kompleksitas ekonomi global yang semakin sadar akan dampak lingkungan. Perusahaan yang segera beradaptasi tidak hanya akan bertahan, tetapi akan memimpin pasar sebagai organisasi yang bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan.

