Puncak Populer — Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan kebijakan luar negeri yang kontroversial, kembali mencuri perhatian dunia setelah mengungkapkan niatnya untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza. Dewan ini, yang dibentuk untuk mempromosikan solusi damai dalam konflik Israel-Palestina, telah menjadi pusat perdebatan internasional. Trump, yang selama masa kepresidenannya dikenal mendekati Israel dengan sangat proaktif, kini mengundang respon beragam dari berbagai negara.
Proposal Trump: Tujuan dan Alasan Bergabung
Trump menyampaikan niatnya untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza dalam rangka mendukung upaya menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah, dengan fokus khusus pada penyelesaian konflik Israel-Palestina. Dalam sebuah wawancara, Trump mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam dewan ini akan memberikan dampak positif, mengingat pengalamannya dalam menegosiasikan perjanjian damai selama masa pemerintahannya, termasuk Kesepakatan Abraham yang berhasil menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab.
Selain itu, Trump juga menilai bahwa kehadirannya dapat memberikan perspektif yang lebih kuat dan realistis dalam mendekati perdamaian, mengingat hubungan dekat yang dimilikinya dengan pemerintah Israel. Namun, proyeksi kehadiran Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza ini menuai beragam respons dari komunitas internasional, dengan beberapa negara menyambut baik usulan tersebut, sementara lainnya menolaknya keras.
Negara-Negara yang Menerima Trump Gabung Dewan Perdamaian Gaza
Israel: Dukungan Kuat dari Negara yang Didekati Trump
Israel menjadi negara yang paling menyambut baik keputusan Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza. Selama kepresidenannya, Trump sangat mendukung kebijakan-kebijakan pro-Israel, termasuk pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pengakuan atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan. Dukungan Trump terhadap Israel tersebut, menurut pejabat Israel, sangat berharga dalam mendukung stabilitas dan perdamaian di kawasan.
Pejabat tinggi Israel menyatakan bahwa Trump telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap keamanan dan kepentingan Israel selama masa jabatannya, sehingga keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian Gaza akan membantu memastikan perdamaian yang lebih adil dan berkelanjutan.
Uni Emirat Arab: Mengapresiasi Posisi Trump yang Progresif
Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham pada 2020, juga menunjukkan respons positif terhadap usulan Trump. Negara-negara Teluk, termasuk UEA, berharap bahwa kehadiran Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza dapat mempercepat proses perdamaian di Timur Tengah. Sejumlah diplomat UEA menyebutkan bahwa Trump memiliki kapasitas untuk membawa perubahan yang lebih cepat dalam negosiasi perdamaian, dengan mempertimbangkan posisi kuatnya di dunia internasional dan hubungan yang telah terjalin dengan banyak negara besar.
Arab Saudi: Terbuka Terhadap Ide Trump, Namun Dengan Hati-hati
Arab Saudi, meskipun lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan, menunjukkan sikap yang cukup terbuka terhadap kemungkinan keterlibatan Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza. Sebagai salah satu pemain utama dalam dunia Arab, Arab Saudi tetap menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, dan memandang setiap upaya yang bertujuan mencapai perdamaian di Gaza sebagai langkah positif. Namun, mereka juga menekankan pentingnya keterlibatan Palestina secara langsung dalam setiap proses perdamaian, dengan memastikan bahwa hak-hak rakyat Palestina diakui dan dilindungi.
Negara-Negara yang Menolak Trump Gabung Dewan Perdamaian Gaza
Palestina: Penolakan Keras atas Keterlibatan Trump
Palestina secara tegas menolak keterlibatan Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza. Pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan bahwa Trump tidak dapat dipercaya untuk memainkan peran dalam proses perdamaian setelah keputusan-keputusan kontroversial yang diambilnya selama masa kepresidenannya, seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan kedutaan besar AS ke sana. Palestina menilai bahwa kebijakan Trump selama ini justru lebih memihak pada kepentingan Israel dan merugikan hak-hak mereka.
Para pejabat Palestina menambahkan bahwa setiap upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Trump akan dianggap sebagai upaya untuk mengabaikan hak-hak dasar Palestina, dan mereka menegaskan bahwa setiap solusi yang melibatkan Palestina harus melibatkan pemimpin Palestina dan dihormati oleh seluruh dunia.
Turki: Kritis terhadap Trump, Menilai Tindakan Tidak Netral
Turki, yang selama ini mendukung Palestina dan mengecam kebijakan Israel terhadap Gaza, juga menolak keterlibatan Trump dalam Dewan Perdamaian Gaza. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, dengan keras mengkritik kebijakan luar negeri Trump yang dianggap terlalu mendukung Israel dan tidak adil terhadap Palestina. Turki menyebutkan bahwa Trump telah menunjukkan sikap yang tidak netral dalam konflik ini, dan keterlibatannya dalam proses perdamaian akan merugikan perjuangan Palestina.
Pemerintah Turki menekankan bahwa setiap usaha perdamaian harus diupayakan dengan melibatkan aktor-aktor yang lebih adil dan berkomitmen pada penyelesaian yang berlandaskan pada hukum internasional dan hak asasi manusia.
Iran: Tidak Setuju dengan Pendekatan Trump
Iran, yang merupakan pendukung utama kelompok-kelompok pro-Palestina di kawasan Timur Tengah, juga menolak keras ide Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza. Pemerintah Iran menilai bahwa Trump adalah bagian dari masalah, bukan solusi. Iran berpendapat bahwa kebijakan luar negeri Trump selama masa jabatannya lebih banyak memberi keuntungan kepada Israel dan negara-negara besar lainnya, tanpa memperhatikan hak-hak rakyat Palestina.
Menurut Iran, segala upaya perdamaian yang melibatkan Trump tidak akan pernah menghasilkan hasil yang adil bagi Palestina, mengingat kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh mantan presiden tersebut yang cenderung berpihak pada kepentingan Israel.
Keputusan Donald Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza telah memicu berbagai reaksi dari negara-negara di seluruh dunia. Sementara beberapa negara seperti Israel dan Uni Emirat Arab menyambut baik keterlibatannya, negara-negara seperti Palestina, Turki, dan Iran menunjukkan penolakan yang kuat, mengingat kebijakan pro-Israel Trump yang dianggap merugikan Palestina.
Proses perdamaian di Gaza memang memerlukan usaha kolektif dari seluruh pihak terkait, dan meskipun Trump memiliki pengaruh yang besar di dunia internasional, masih banyak yang meragukan objektivitasnya dalam memimpin proses perdamaian. Ke depannya, bagaimana dinamika ini berkembang akan sangat bergantung pada bagaimana komunitas internasional dan negara-negara yang terlibat dapat mencari kesepakatan yang benar-benar mengutamakan keadilan dan perdamaian bagi seluruh rakyat Palestina dan Israel.

