Puncak Populer — Setelah tertekan akibat pandemi COVID-19, sektor properti kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Salah satu aspek yang diprediksi akan ikut bangkit adalah kredit properti, yang dipengaruhi oleh sejumlah insentif yang diberikan pemerintah dan lembaga keuangan. Pengamat pasar properti optimis bahwa pemberian insentif yang tepat akan mendorong lebih banyak masyarakat untuk mengambil kredit properti, yang pada gilirannya akan meningkatkan aktivitas sektor properti secara keseluruhan.
Berdasarkan data terkini, meskipun sektor properti sempat mengalami penurunan tajam pada tahun-tahun pertama pandemi, kini tren permintaan mulai menunjukkan pemulihan. Kenaikan suku bunga kredit yang cukup signifikan dan penurunan daya beli masyarakat menjadi tantangan, namun dengan adanya kebijakan insentif dari pemerintah, sektor ini diperkirakan dapat kembali menggeliat.
Insentif Pemerintah: Penggerak Utama Kembali Bangkitnya Kredit Properti
Salah satu faktor yang diprediksi dapat mengangkat sektor kredit properti adalah kebijakan insentif yang telah diberikan oleh pemerintah. Sejak tahun lalu, pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mempercepat pemulihan sektor properti, termasuk insentif bagi pembelian rumah dan apartemen. Kebijakan ini termasuk penurunan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor properti, yang awalnya diperkirakan akan berakhir pada 2022, namun diperpanjang hingga 2023, sehingga memberi dampak positif bagi minat masyarakat untuk membeli rumah.
Selain itu, pemerintah juga telah menggulirkan program bantuan pembiayaan rumah melalui subsidi bunga, yang memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah dapat memiliki akses lebih mudah ke pembiayaan rumah. Dengan adanya berbagai kebijakan ini, para pelaku pasar berharap dapat menarik lebih banyak pembeli properti, terutama di segmen perumahan pertama (first home buyers).
Faktor Pemulihan Ekonomi Menjadi Katalisator
Pemulihan ekonomi yang mulai membaik juga memberikan dampak positif terhadap sektor properti. Seiring dengan pemulihan ekonomi pasca-pandemi, daya beli masyarakat mulai meningkat, meskipun belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum pandemi. Namun, dengan adanya insentif dari pemerintah, banyak konsumen yang merasa lebih terdorong untuk membeli properti. Mereka menyadari bahwa potensi nilai properti cenderung meningkat dalam jangka panjang, menjadikannya pilihan investasi yang menarik.
Selain itu, semakin banyak perusahaan yang mulai menawarkan program fasilitas kerja fleksibel (work from anywhere) atau hybrid, yang menyebabkan banyak orang mulai mencari rumah di lokasi yang lebih nyaman dan strategis. Kebijakan ini turut menguntungkan sektor properti, terutama bagi pengembang yang memiliki proyek di daerah-daerah yang selama ini kurang diminati.
Suku Bunga Kredit Properti dan Dampaknya
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam bangkitnya sektor kredit properti adalah suku bunga. Bank Indonesia (BI) telah mengubah kebijakan suku bunga acuan untuk merespons inflasi dan gejolak ekonomi global. Walaupun suku bunga kredit properti sempat meningkat, namun sejumlah bank masih menawarkan program kredit dengan bunga yang relatif kompetitif.
Para bankir mengungkapkan bahwa meskipun ada sedikit kenaikan bunga kredit, penurunan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir dan berbagai insentif yang diberikan oleh pemerintah akan memberikan efek positif bagi sektor properti. Bagi banyak pembeli properti, baik itu rumah pertama atau investasi properti, penurunan bunga kredit yang disertai dengan insentif seperti bebas PPN akan memperkecil beban angsuran mereka.
Minat Masyarakat Terhadap Properti yang Terjangkau
Segmen properti yang paling banyak diminati saat ini adalah properti dengan harga terjangkau, terutama rumah untuk kalangan menengah ke bawah. Berdasarkan data Bank Indonesia dan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), properti dengan harga di bawah Rp500 juta menjadi pilihan utama bagi banyak pembeli. Hal ini dipicu oleh semakin tingginya harga tanah dan kebutuhan akan hunian yang terjangkau.
Seiring dengan itu, pengembang properti juga mulai berfokus pada pembangunan hunian dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi tetap mempertahankan kualitas. Konsep rumah sederhana yang ramah anggaran, dengan lokasi yang strategis, menjadi tren utama di pasar properti Indonesia. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar menengah ke atas, pengembang mulai fokus pada proyek apartemen dan kondominium dengan fasilitas lengkap di lokasi-lokasi yang berkembang.
Peran Bank dalam Mendorong Kredit Properti
Selain insentif dari pemerintah, peran lembaga keuangan, khususnya bank, sangat penting dalam mendorong bangkitnya kredit properti. Banyak bank kini menawarkan paket kredit properti dengan bunga ringan, program cicilan yang fleksibel, serta proses persetujuan yang lebih cepat. Hal ini tentu saja memberi kemudahan bagi calon pembeli yang ingin mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR).
Beberapa bank besar di Indonesia juga memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan proses aplikasi KPR. Proses pengajuan yang lebih cepat dan transparan memberi kenyamanan bagi nasabah, serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap lembaga keuangan. Berbagai aplikasi digital dan platform online kini banyak digunakan oleh bank untuk memberikan informasi yang lebih jelas mengenai produk-produk kredit properti mereka, serta membantu konsumen memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka.
Proyeksi Sektor Properti ke Depan
Para analis pasar memperkirakan bahwa sektor kredit properti akan terus mengalami peningkatan, terutama jika kebijakan insentif terus dipertahankan dan daya beli masyarakat kembali pulih. Selain itu, dengan berbagai perkembangan teknologi dan tren kerja jarak jauh yang semakin populer, sektor properti juga diprediksi akan mengalami transformasi. Permintaan terhadap rumah-rumah dengan konsep yang lebih fleksibel dan dapat digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus ruang kerja diprediksi akan terus tumbuh.
Para pengembang dan investor properti juga mulai beradaptasi dengan tren baru ini dengan membangun hunian yang lebih ramah terhadap pekerja jarak jauh dan lebih fleksibel. Proyek-proyek properti di luar kota besar seperti Jakarta pun mulai diminati karena semakin banyak orang yang mencari tempat tinggal dengan kualitas hidup lebih baik dan harga yang lebih terjangkau.
Kredit Properti Masih Menjadi Pilihan Utama
Dengan berbagai insentif dari pemerintah yang dirancang untuk mendukung sektor properti, diprediksi bahwa kredit properti akan kembali bangkit dalam beberapa tahun mendatang. Meskipun ada tantangan terkait suku bunga dan daya beli masyarakat, insentif yang terus didorong akan mendorong lebih banyak orang untuk membeli properti, terutama rumah pertama.
Selain itu, pemulihan ekonomi, kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan lembaga keuangan, serta perhatian terhadap segmen pasar yang terjangkau, akan menjadi faktor utama dalam mempercepat kebangkitan sektor kredit properti. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi properti, sektor ini diprediksi akan kembali tumbuh secara signifikan dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi Indonesia.

