Puncak Populer – Era digital telah mengubah cara kita merencanakan perjalanan. Dulu, kita harus mengantre di loket terminal yang panas dan bising, namun kini tiket bus bisa didapatkan hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel. Kemudahan ini sayangnya sering membuat calon penumpang menjadi kurang teliti.
Alih-alih mendapatkan perjalanan yang nyaman, banyak orang justru terjebak dalam masalah teknis yang merugikan waktu dan biaya. Memahami celah-celah kesalahan dalam reservasi digital sangat penting agar rencana mudik atau liburan Anda tidak berantakan. Berikut adalah 6 kesalahan utama yang sering dilakukan saat memesan tiket bus secara online dan cara menghindarinya.
Menghindari Kerugian 6 Kesalahan Fatal Saat Memesan Tiket Bus Online
Kesalahan yang paling klasik namun sering terjadi adalah kekeliruan dalam memilih titik jemput (pick-up point) dan titik turun (drop-off point). Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, sebuah Perusahaan Otobus (PO) biasanya memiliki banyak agen dan terminal. Banyak penumpang yang hanya melihat nama kota tanpa memperhatikan detail lokasinya. Misalnya, memilih terminal yang letaknya sangat jauh dari rumah hanya karena harga tiketnya sedikit lebih murah. Hal ini justru akan menambah biaya transportasi lokal dan risiko tertinggal bus akibat kemacetan menuju terminal tersebut.
Mengabaikan Detail Fasilitas Dan Kelas Bus
Dalam sistem pemesanan online, biasanya tertera kelas bus seperti Ekonomi, VIP, Executive, hingga Super Executive atau Sleeper Bus. Kesalahan umum pengguna adalah terpaku pada harga terendah tanpa mengecek fasilitas. Ada bus Executive yang menyediakan leg rest dan toilet, namun ada juga yang tidak. Memesan tiket tanpa membaca deskripsi fasilitas bisa berujung pada kekecewaan, terutama untuk perjalanan jarak jauh yang memakan waktu belasan jam. Pastikan Anda memeriksa konfigurasi kursi (2-2 atau 2-1) untuk kenyamanan maksimal.
Mengisi Data Penumpang Secara Asal-asalan
Karena terburu-buru takut kehabisan kuota, banyak orang melakukan kesalahan pengetikan (typo) pada nama, nomor telepon, atau alamat email. Dalam sistem tiket elektronik (e-ticket), nomor telepon dan email adalah gerbang utama pengiriman kode booking. Jika email salah, Anda tidak akan menerima bukti bayar. Selain itu, beberapa PO bus kini memberlakukan verifikasi identitas yang ketat. Ketidakcocokan antara nama di tiket dengan kartu identitas (KTP) bisa menyebabkan proses check-in terhambat di terminal.
Tidak Memperhatikan Syarat Pembatalan dan Reschedule
Dinamika perjalanan seringkali tidak terduga. Kesalahan besar penumpang online adalah mencentang kolom “Setuju dengan Syarat dan Ketentuan” tanpa benar-benar membacanya. Setiap PO bus memiliki kebijakan berbeda mengenai pengembalian dana (refund) atau perubahan jadwal (reschedule). Ada tiket promo yang bersifat non-refundable, artinya uang Anda hangus jika batal berangkat. Pahami batas waktu pembatalan, biasanya maksimal 24 atau 48 jam sebelum keberangkatan, agar hak Anda sebagai konsumen tetap terlindungi.
Terlambat Melakukan Pembayaran Timeout
Aplikasi pemesanan tiket online memiliki batas waktu pembayaran yang sangat ketat, biasanya berkisar antara 15 hingga 60 menit. Banyak pengguna yang sudah memilih kursi strategis namun menunda pembayaran karena urusan lain. Akibatnya, sesi pemesanan habis (timeout), kursi dilepas kembali ke pasar, dan saat mencoba memesan ulang, harga mungkin sudah naik atau kursi favorit sudah diambil orang lain. Pastikan saldo dompet digital atau m-banking Anda siap sebelum menekan tombol pesan.
Melakukan Pemesanan Terlalu Dekat Dengan Jam Berangkat
Memesan tiket last minute secara online sangat berisiko. Selain kemungkinan sistem belum melakukan sinkronisasi data dengan manifest di lapangan, Anda juga tidak memiliki ruang untuk menangani kendala teknis. Jika terjadi error pada aplikasi saat pembayaran di menit-menit terakhir, Anda tidak akan punya cukup waktu untuk mencari solusi alternatif. Idealnya, pesanlah tiket minimal H-3 untuk perjalanan biasa, dan jauh-jauh hari untuk musim libur panjang.

